MADIUN, NEUMEDIA.ID – Suasana haru menyelimuti prosesi serah terima taruna dan taruni Angkatan IX/60 SMA Negeri 3 Taruna Angkasa Jawa Timur di Madiun yang digelar di Gedung Graha Dewanto, Lanud Iswahjudi, Maospati, Magetan, Minggu (12/7/2026). Sebanyak 270 siswa resmi diserahkan orang tua kepada pihak sekolah untuk menjalani pendidikan di sekolah yang bergelimang prestasi tersebut.
Momentum tersebut menjadi awal perjalanan para taruna angkatan ke-9. Usai prosesi serah terima, para siswa akan langsung memasuki kehidupan asrama dengan sistem pembinaan disiplin yang menjadi ciri khas SMAN 3 Taruna Angkasa,
Kepala SMAN 3 Taruna Angkasa, Agus Supriyono, mengatakan tahun ini sekolah menerima 270 taruna baru dari total 1.290 pendaftar yang mengikuti proses seleksi.
“Ini merupakan angkatan ke-9 taruna, sementara secara keseluruhan sekolah sudah memasuki angkatan ke-60 sejak masih bernama SMA Negeri 3. Dari 1.290 pendaftar, yang diterima sebanyak 270 siswa,” ujarnya.

Agus menjelaskan, setelah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari, seluruh taruna langsung menjalani masa basis selama tiga bulan. Pada fase tersebut, para siswa tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang tua. Bahkan, keluarga juga tidak diizinkan menjenguk maupun menelepon anak selama proses pembentukan karakter berlangsung.
“Tujuannya agar anak-anak belajar mandiri, tidak bergantung kepada orang tua, mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak mengalami homesick, serta memiliki kesiapan fisik dan mental yang kuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, setelah prosesi serah terima selesai, seluruh taruna langsung masuk ke asrama. Orang tua hanya diperbolehkan mengantar hingga lokasi kegiatan dan tidak dapat mendampingi anak ke lingkungan asrama.
“Di asrama mereka akan dibina, dididik, dan digembleng sesuai sistem pendidikan yang berlaku. Harapan kami mereka mampu menikmati proses belajar meski disiplin yang diterapkan cukup ketat. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, disiplin, berjiwa patriotisme, dan siap menjadi harapan bangsa di masa depan,” katanya.

Di balik prosesi tersebut, tersimpan pengorbanan besar para orang tua yang harus merelakan anaknya berpisah selama tiga bulan tanpa komunikasi.
Salah satunya disampaikan Didik Dwi Cahyono, wali murid yang juga merupakan salah seorang tokoh di Universitas Pertahanan. Menurutnya, memilih SMAN 3 Taruna Angkasa merupakan ikhtiar untuk membekali anak dengan karakter yang kuat di tengah derasnya tantangan zaman.
“Sekolah ini dikenal mampu mencetak generasi yang berkarakter, disiplin, dan memiliki wawasan luas. Di era globalisasi sekarang, anak-anak membutuhkan benteng karakter agar siap menghadapi masa depan,” ungkapnya.
Meski harus berpisah sementara, Didik mengaku mendukung penuh aturan sekolah karena diyakini menjadi bagian penting dalam membentuk kemandirian anak.
“Kami sebagai orang tua akan mengikuti seluruh prosedur yang ditetapkan sekolah. Ini merupakan bagian dari character building, agar anak belajar berdiri di atas kemampuannya sendiri tanpa selalu bergantung kepada orang tua,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Hafni Ahmad, wali murid asal Surabaya. Ia sengaja menyekolahkan putranya di SMAN 3 Taruna Angkasa agar memiliki disiplin, kemandirian, serta peluang lebih besar mewujudkan cita-cita menjadi anggota militer maupun sekolah kedinasan.
“Saya berharap anak saya menjadi pribadi yang lebih disiplin, dewasa, memiliki adab yang baik, dan mampu meraih cita-citanya,” katanya.
Hafni mengakui berat melepas putranya menjalani masa basis tanpa komunikasi. Namun, ia memilih mempercayakan sepenuhnya proses pendidikan kepada sekolah.
“Tentu kami sedih karena selama ini selalu bersama sebagai keluarga. Tetapi demi masa depan anak, kami ikhlas menyerahkan sepenuhnya proses pendidikannya kepada SMAN 3 Taruna Angkasa. Kami percaya sekolah ini mampu membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (ant/red)






