Pesilat Madiun Mengguncang Belanda, Bawa Nama Kampung Pesilat ke Panggung Dunia

- Editorial Team

Kamis, 17 September 2026 - 08:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Enam pesilat Madiun bakal guncang Belanda. Foto : Istimewa

Enam pesilat Madiun bakal guncang Belanda. Foto : Istimewa

MADIUN, NEUMEDIA.ID – Bukan sekadar jurus yang dibawa. Bukan pula hanya pertunjukan seni. Enam pesilat dan seniman asal Madiun akan membawa semangat Mataraman dan identitas Kampung Pesilat ke jantung Eropa.

Delegasi Madiun resmi ambil bagian dalam 1st International Pencak Silat Cultural Heritage Festival 2026 yang digelar pada 8–12 Oktober 2026 di De Bron, Amersfoort, Belanda. Keikutsertaan tersebut merupakan undangan resmi dari Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF).

Yang membuat langkah ini semakin istimewa, enam delegasi tersebut merupakan kolaborasi dua sanggar binaan Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM). Mereka berasal dari Sanggar Satria Krida Manggala Kabupaten Madiun dan Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso Kota Madiun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari tanah Madiun, mereka datang membawa repertoar bertajuk “The Spirit of Mataraman: Pencak Silat from Madiun”. Pertunjukan ini menyajikan karakter pencak silat Mataraman yang tegas, santun, sekaligus sarat nilai persaudaraan.

Bagi Madiun, panggung tersebut bukan sekadar pertunjukan. Ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan kepada publik internasional bahwa pencak silat telah menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah yang dikenal sebagai Kampung Pesilat.

Langkah menuju Belanda itu juga menjadi cerita tersendiri bagi para pelaku seni yang selama ini menempa diri di daerah.

Ketua Sanggar Satria Krida Manggala, Bayu Supriyanto, mengaku perjalanan tersebut terasa seperti mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

“Kami ini anak-anak desa dari Caruban. Dulu, bisa tampil di panggung kabupaten saja sudah kami syukuri. Sekarang, membawa nama PSHWTM dan Madiun ke Belanda adalah mimpi yang jadi nyata berkat latihan tekun dan doa orang tua,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso, Iwan Budi Prasetiya, menyebut keberangkatan bersama antara delegasi Kota dan Kabupaten Madiun memiliki arti tersendiri.

“Ini adalah bentuk lanjutan syiar PSHWTM di Benua Biru. Keberangkatan bersama dari Kota dan Kabupaten Madiun sebagai satu delegasi membuat langkah ini terasa sangat bermakna,” katanya.

Misi kebudayaan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiaraya, serta dukungan MIND ID dan Pemerintah Kabupaten Madiun.

Dukungan itu membuat delegasi dapat tampil dengan komposisi pertunjukan yang lebih lengkap di hadapan publik Eropa.

Bupati Madiun Hari Wuryanto menyebut keberangkatan tersebut sebagai kebanggaan bagi daerah.

“Ini kebanggaan luar biasa. Saat wakil kami tampil di Eropa, sebutan Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat terbukti bukan sekadar slogan, melainkan identitas yang benar-benar hidup dan mendunia,” tegasnya.

Panggung Belanda juga menjadi bagian dari perjalanan panjang PSHWTM dalam memperkenalkan seni dan nilai pencak silat ke dunia internasional.

Sebelumnya, PSHWTM telah tampil di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, pada 2024. Kehadiran di Belanda pada 2026 menjadi kelanjutan dari kiprah tersebut.

Dalam festival ini, delegasi Madiun juga akan tampil berdampingan dengan sejumlah aliran pencak silat dari daerah lain di Indonesia, antara lain Harimau Singgalang dari Sumatera Barat dan Panglipur dari Jawa Barat.

Pertemuan berbagai aliran tersebut sekaligus memperlihatkan betapa luasnya akar pencak silat Nusantara.

Bagi PSHWTM, hal tersebut memiliki kaitan historis dengan perjalanan keilmuan Setia Hati yang diajarkan Ki Ngabehi Soerodiwiryo atau Eyang Suro sejak 1903.

Keragaman aliran yang bertemu di satu panggung seolah menjadi gambaran perjalanan pencak silat Nusantara yang tumbuh dari banyak tradisi, daerah, dan akar kebudayaan.

President NPSF, Olivier Blancquaert, menjelaskan bahwa festival tersebut sengaja menghadirkan praktisi pencak silat dari Indonesia untuk memberikan pengalaman autentik kepada masyarakat Eropa.

“Kali ini kami membalik keadaan. Jika biasanya pesilat Eropa yang datang ke Indonesia, kini kami mengundang guru-guru dari Indonesia untuk mengisi akhir pekan istimewa di Belanda dengan lokakarya dan peragaan autentik,” jelas Olivier.

Sementara itu, Ketua Koordinator Delegasi Indonesia dari Naine Visual Productions, Joened Agung Sumarwan, menilai keberagaman aliran justru menjadi kekuatan utama dalam memperkenalkan pencak silat Indonesia kepada dunia.

“Tugas kami adalah memastikan Indonesia hadir secara utuh. Perbedaan aliran dari Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Madiun justru menunjukkan betapa kayanya pencak silat Indonesia karena tumbuh dari banyak akar,” katanya.

Selama lima hari penyelenggaraan, festival tidak hanya diisi dengan pertunjukan pencak silat. Agenda juga mencakup FGD kemitraan strategis, penandatanganan MoU kerja sama kebudayaan, hingga kunjungan kehormatan ke KBRI di Den Haag.

Rangkaian tersebut memperluas makna kehadiran pencak silat Indonesia di Belanda. Seni bela diri yang tumbuh dari tradisi Nusantara itu hadir sekaligus sebagai medium pertukaran budaya dan diplomasi.

Ia merupakan olah jiwa dan pikiran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Nilai adiluhung dan edipeni—luhur dalam nilai sekaligus indah dalam wujud—menjadi pesan yang hendak dibawa dari Madiun ke panggung internasional.

Dari Caruban dan Madiun, jurus-jurus itu kini melangkah jauh.

Menembus Belanda, membawa nama Kampung Pesilat, dan memperkenalkan wajah budaya Nusantara kepada dunia. (*/ant/red) 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Dua Tim Madiun Tancap Gas di SVL 2026, SMAN 2 Mejayan dan MAN 2 Kota Madiun Lolos Babak Utama
Tingkatkan Pemahaman Aturan, Dishub Madiun Bina Juru Parkir
3,2 Juta Kg Beras Banpang Tuntas Disalurkan, Bulog Madiun Gaspol Sebelum Tenggat Nasional
DPRD Madiun Ajukan Raperda Inisiatif untuk Fasilitasi Pesantren dan Perlindungan Penyandang Disabilitas
Bahana Bersahaja di Desa Bener, PLN Nyalakan Listrik Gratis untuk Warga
Bahana Bersahaja di Desa Bener, Pemkab Madiun Sediakan 33 Layanan, Jalan Putus hingga RTLH Jadi Sasaran Pembenahan 
Jangan Asal Serahkan Anak, Pemkab Madiun Ingatkan Risiko Adopsi Tanpa Prosedur Resmi
Bupati Madiun Sampaikan Jawaban PU Fraksi, DPRD Dalami P-APBD 2026

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 12:49 WIB

Tingkatkan Pemahaman Aturan, Dishub Madiun Bina Juru Parkir

Kamis, 17 September 2026 - 08:05 WIB

Pesilat Madiun Mengguncang Belanda, Bawa Nama Kampung Pesilat ke Panggung Dunia

Rabu, 16 September 2026 - 16:12 WIB

3,2 Juta Kg Beras Banpang Tuntas Disalurkan, Bulog Madiun Gaspol Sebelum Tenggat Nasional

Rabu, 16 September 2026 - 15:28 WIB

DPRD Madiun Ajukan Raperda Inisiatif untuk Fasilitasi Pesantren dan Perlindungan Penyandang Disabilitas

Rabu, 16 September 2026 - 12:06 WIB

Bahana Bersahaja di Desa Bener, Pemkab Madiun Sediakan 33 Layanan, Jalan Putus hingga RTLH Jadi Sasaran Pembenahan 

Jumat, 4 September 2026 - 17:04 WIB

Jangan Asal Serahkan Anak, Pemkab Madiun Ingatkan Risiko Adopsi Tanpa Prosedur Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Bupati Madiun Sampaikan Jawaban PU Fraksi, DPRD Dalami P-APBD 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:39 WIB

Mokondo, Kenalan Lewat Aplikasi Pertemanan Ujung-ujungnya Bawa Kabur Kalung Emas Rp8,5 Juta Milik Perempuan yang Baru Dikenalnya 

Berita Terbaru