| Setiap rangkaian LRT Jabodebek tidak bisa sejajar lantaran adanya spesifikasinya berbeda-beda |
| . Foto: media sosial kabarpenumpang |
|
|
NEUMEDIA.ID – Proyek light rail transit (LRT)
Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) menuai kontroversi ketika mendekati
final. Salah satunya dalam hal teknis kereta produksi PT INKA (Persero) yang
berkantor pusat di Madiun.
Wakil Menteri BUMN Kartika
Wirjoatmodjo menyatakan bahwa spesifikasi 31 trainset terdapat perbedaan pada setiap rangkaiannya. Akibatnya,
sistem perangkat lunak (software)
harus diperbaiki dengan biaya yang lebih tinggi.
Tiko, sapaan akrab Kartika
Wirjoatmodjo menyatakan bahwa Siemens selaku kontraktor yang kebagian tugas
menggarap software development ikut
terkenda getahnya. Sebab, ongkos pengembangan perangkat lunak membengkak.
Perusahaan asal Jeman ini disebut
telah melayangkan protes ihwal spesifikasi LRT ke Kementerian BUMN.
“Siemens suatu hari call meeting, komplain sama saya. Pak
ini software-nya naik cost-nya, kenapa, spec (spesifikasi)
keretanya INKA ini baik dimensi, berat maupun kecepatan dan pengeremannya
berbeda-beda satu sama lain. Jadi 31 kereta beda spec (spesifikasi) semua,”
jelas Tiko dalam InJourney Talks yang dikutip neumedia.id dari akun media sosial KabarPenumpang, Jumat, 4 Agustus
2023.
Akibat spesifikasi yang berbeda-beda
itu, ia melanjutkan, software milik
Siemens sulit diintegrasikan sehingga LRT tidak bisa berhenti tepat di peron
stasiun. Kondisi ideal, yakni setiap rangkaian kereta tanpa masinis itu sejajar
antara gate di stasiun dan pintu
kereta tidak terpenuhi.
Untuk mengatasi permasalahan itu
dibutuhkan penyesuaian kembali agar memiliki toleransi yang dapat membuat
masing-masing rangkaian berhenti pada posisi yang sama.
Sementara itu, pihak PT INKA
menyatakan bahwa pembuatan LRT Jabodebek telah sesuai dengan spesifikasi teknis
dari PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) selaku operator kereta tanpa
masinis itu.
“Kami sudah membuat kereta tersebut
sesuai spesifikasinya,” kata Senior Manager Humas dan Kantor Perwakilan PT INKA
Agung Dwi Cahyono saat dikonfirmasi, Kamis petang, 3 Agustus 2023.
Namun, ia tidak bersedia menjelaskan
lebih lanjut tentang kesesuaian antara spesifikasi pembuatan dan pemesanan yang
dimaksud. “Sementara hanya jawaban di atas saja,” ujar dia.
Presiden
Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa kesalahan merupakan hal yang lumrah.
Apalagi, proyek moda transportasi LRT ini merupakan yang pertama kali di
Indonesia.
“Kalau
ada kekurangan, masih ada yang perlu dikoreksi, masih ada yang perlu dievaluasi
saya kira wajar. Jangan mengharapkan ini nanti operasi semuanya sempurna. Enggak, pasti ada perbaikan-perbaikan
sistem, perbaikan-perbaikan teknis untuk yang lain-lainnya,” jelasnya. (**/ofi)
Diolah dari berbagai sumber dan
reportase neumedia.id






