| Petugas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di wilayah Jabodetabek. Foto:BRIN |
NEUMEDIA.ID, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
mulai menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menaburkan 800
kilogram garam semai di langit Jabodetabek. Pelaksanaan satu sorti penerbangan
penyemaian itu berlangsung di ketinggian 9.000-10.000 kaki pada pukul 14.15 –
16.00 WIB, Sabtu lalu, 19 Agustus 2023.
Hasilnya dilaporkan wilayah Ciomas ke
arah Gunung Salak terpantau mendung pada Sabtu sore (jelang maghrib). Sedangkan
hujan dengan intensitas ringan berkisar 17.27 hingga 19.51 WIB di Bogor Barat,
Bogor Selatan, Bojong Gede, Kemang, dan Tenjolaya.
Sementara daerah Dramaga, Ciomas,
Tamansari, Cijeruk, dan Cigombong juga dilaporkan mengalami hujan dengan
intensitas sedang. Daerah lain Cibungbulang, Pamijahan, Leuwiliang, Nanggung
terjadi hujan ringan pada 19.00 – 21.00 WIB.
Koordinator Laboratorium
Pengelolaan TMC BRIN, Budi Harsoyo mengatakan bahwa target penyemaian yang baru
kali pertama dilakukan itu ada di empat lokasi. Pertama, di wilayah Kabupaten
Cianjur, Depok, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat.
“Tujuannnya mengurangi polutan di
daerah tertentu dengan menjatuhkan atau mengguyurnya dengan air hujan,” ujar
dia dikutip Neumedia dari keterangan
tertulisnya, Senin, 21 Agustus 2023.
Namun, Budi melanjutkan, jika hal
tersebut tidak memungkinka maka TMC menargetkan “mengganggu
” stabilitas atmosfer. Caranya dengan menaburkan bahan
semai dalam bentuk dry ice atau es
kering di ketinggian tertentu di udara. Di situ terdapat semacam hamparan awan
serupa karpet panjang.
Hal itu terjadi karena tidak
adanya perbedaan temperatur di titik ketinggian tersebut atau isotherm yang
kemudian menimbulkan lapisan inversi.
“Nah, ini yang akan kita ganggu,
dibuka ibaratnya, sehingga kumpulan-kumpulan polutan yang terkungkung di
sekitar wilayah Jakarta bisa terus naik ke atas, ” papar Budi.
Kendati demikian, metode TMC tanpa
hujan tersebut memerlukan persiapan matang. Untuk saat ini lanjut Budi,
pihaknya belum siap, masih perlu mendesain dan membuat konsul untuk menempatkan
dry ice di didalam kabin pesawat.
“Dry ice ini yaitu CO2. Jika
packaging dan handling di pesawat sembarangan, kru bisa kehabisan oksigen atau
hypoksia, ” ujarnya.
Menurut Budi, ada satu alternatif
bahan semai lain yang bisa dicoba dan lebih memungkinkan untuk
diimplementasikan, yaitu menggunakan kapur tohor. Bedanya, kalau dry ice
mengkondisikan udara agar menjadi lebih dingin, sementara dengan kapur tohor
sebaliknya, mengkondisikan udara menjadi lebih panas.
“Tapi prinsipnya sama,
mengkondisikan suhu di lapisan isotherm pada ketinggian tertentu untuk mengganggu
kestabilan atmosfer,” ujar Budi. (**/ofi)






