| Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Foto:instagram.com/dwikoritakarnawati |
NEUMEDIA.ID – Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan tentang kenaikan suhu terus
mengalami lonjakan. Bahkan, sejak 2015 hingga 2022 tercatat sebagai tahun
terpanas sepanjang sejarah pasca Revolusi Industri. Suhu udara permukaan dapat meloncat di akhir tahun 2100 atau akhir abad 21
nanti.
Hal itu berdasarkan komposit data
seluruh dunia yang dikumpulkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia. Bahkan, kenaikan
suhu menjadi 3,5 derajat Celcius dibandingkan masa sebelum Revolusi Industri. Kondisi
ini berlangsung secara global, termasuk di seluruh pulau-pulau besar di
Indonesia.
“Kita perlu melakukan mitigasi, yaitu
upaya menekan laju kenaikan temperatur,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati
dalam keterangan resminya yang dikutip Neumedia.id,
Jumat, 18 Agustus 2023.
Cara menekan laju temperatur dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui penerapan teknologi yang
perlu digalakkan oleh mahasiswa fakultas teknis di setiap kampus. Mereka dapat
dilibatkan dalam penelitian hingga membuat piranti yang dapat menekan suhu bumi
yang kian memanas.
Apalagi, informasi terkait pemanasan global
mudah diakses. Ini dengan adanya 33 stasiun pengawas atmosfer global. Satu di
antaranya ada di BMKG, yaitu di tengah hutan di Bukit Kototabang, Sumatera
Barat.
BMKG memonitor gas rumah kaca di
lokasi yang belum tercemar tersebut. Data BMKG menunjukkan adanya lonjakan
konsentrasi gas rumah kaca mulai 1996-2023, yang kenaikannya sudah hampir
mencapai 40 ppm.
“Itulah kondisi kita saat ini, seluruh
umat di dunia mestinya mengetahui perubahan iklim global, dan harus memiliki
tanggungjawab untuk mengendalikan laju gas rumah kaca” terangnya.
Perubahan iklim global mengakibatkan
terjadinya bencana alam di seluruh negara. Kejadian bencana alam basah dan
bencana alam kering bisa terjadi bersamaan.
Tren kejadiannya semakin meningkat dan
frekuensi kejadiannya semakin sering. Studi menunjukkan inilah ciri-ciri dampak
dari perubahan iklim. Selain perubahan iklim, Dwikorita juga menyoroti
pentingnya kesiapsiagaan bencana, salah satunya dengan rutin melakukan gladi
posko.
Gladi posko bertujuan meningkatkan
kapasitas agar cekatan dan mampu menolong diri sendiri serta orang yang ada di
sekitar ketika bencana terjadi.
Seperti di Jepang yang sudah
menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya. Penting juga membuat peta-peta rute
evakuasi, agar semua orang memiliki peluang untuk selamat dalam keadaan
darurat. (*/ofi)






