![]() |
| Ilustrasi beras. Foto:freepik.com |
NEUMEDIA.ID – India resmi
melarang ekspor beras non-basmati sejak 20 Juli 2023. Larangan itu untuk
menjaga ketersediaan dan menahan kenaikan harga beras yang memiliki tampilan
biji panjang dan ramping di pasar domestik.
Eve Barre, seorang analis
mengatakan bahwa kebijakan itu akan berdampak terhadap pasokan beras di pasar
global. Sebab, India merupakan pengekspor terbesar kedua di dunia setelah
Tiongkok. Adapun sumbangsihnya lebih dari 40 persen.
“(Pasokan) beras global akan
menurun drastis, karena negara ini adalah produsen makanan pokok kedua terbesar
di dunia,” kata Barre yang merupakan ekonom di ASEAN dikutip neumedia.id,
Sabtu, 5 Agustus 2023.
Barclays, analis yang
lain memprediksi sejumlah negara akan terkena dampak dari kebijakan larangan
ekspor beras oleh India. Negara yang terdampak itu seperti Malaysia, Singapura, Bangladesh,
dan Nepal.
Lantas,
apakah Indonesia terkena dampak dari kebijakan India tersebut?. Kepala Badan
Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyatakan bahwa dampaknya tidak
terlalu signifikan. Sebab, ketersediaan dan stok beras dalam negeri aman dan
terkendali.
Menurut
dia, sesuai perhitungan prognosa pangan, neraca berasa dalam negeri masih
surplus dengan perkiraan produksi 31,9 juta ton dan konsumsi 30,8 juta ton.
Dengan demikian, masih ada sisa sekitar 1,1 juta ton.
Jumlah
itu belum memperhitungkan carry over
stock sebanyak 4 juta ton dari 2022 ke 2023. Juga, realisasi impor Januari
hingga Mei 2023 yang mencapai 758 ribu ton.
“Sehingga
kita yakin kondisi ketersediaan dan stok beras nasional kita masih cukup aman
tidak tidak terganggu dengan larangan impor beras oleh Pemerintah India,” ujar
Arief dalam keterangan tertulis. (**/ofi)
Sumber
: CNBC, situs resmi Bapanas







