![]() |
| Ilustrasi petani menanam padi. Foto:freepik.com |
NEUMEDIA.ID, MADIUN – Sejumlah petani di Kabupaten Madiun, Jawa
Timur mulai ketar-ketir saat memasuki
masa tanam pada MK (musim kemarau) II. Mereka khawatir tanaman padi yang baru
ditanam tidak bisa dipanen secara maksimal sekitar tiga bulan mendatang.
Padahal, biaya produksi yang
dibutuhkan dipastikan lebih banyak dibandingkan dengan masa tanam musim hujan
(MH) maupun MK I. Sebab, mereka harus terbebani biaya irigasi dengan sistim
bergilir dari sumur pompa dalam yang berada di kawasan lahan sawahnya.
Sutikno, salah satu petani di
Dusun Batu, Desa Ngampel, Kecamatan Mejayan memprediksi biaya produksi untuk
menggarap sepetak lahannya mencapai Rp 13 juta pada MK II ini. Nominal itu
lebih banyak Rp 4 juta dibandingkan dengan masa tanam MK I (Mei) lalu.
“Karena airnya harus beli harga,
dan butuh beberapa kali irigasi,” ujar dia, Rabu, 19 Juli 2023.
Prediksi biaya itu belum termasuk
kemungkinan rusaknya tanaman akibat anomali cuaca akibat El Nino yang puncaknya
pada Agustus hingga September mendatang. Bila fenomena alam itu terjadi, maka
biaya yang dikeluarkan jauh lebih banyak lantaran untuk mencukupi kebutuhan air
dan pupuk bagi tanaman padinya.
Ketua Kontak Tani dan Nelayan
Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun, Suharno menyatakan bahwa mayoritas petani
sudah mempersiapkan diri menghadapi kemarau panjang. Mereka berencana
mengajukan permohonan ke pemerintahan desa masing-masing untuk menerbitkan
surat keterangan pembelian solar bersubsidi ke stasiun pengisian bahan bakar
umum (SPBU).
Solar itu akan untuk digunakan
mengoperasionalkan mesin pada sumur dangkal yang masih ada di kawasan
persawahan mereka. Rencana itu muncul karena sumur pompa dalam yang menggunakan
energi listrik untuk operasionalnya berjumlah terbatas.
“Hanya 200 sampai 300-an
(se-Kabupaten Madiun). Padahal idealnya ada ribuan (sumur pompa dalam),” ujar
Suharno.
Ia menambahkan, pembelian solar
bersubsidi tetap tidak dapat dilakukan di SPBU karena terbentur regulasi, maka
petani akan menjalankan cara lain. Pembelian salah satu jenis BBM itu akan
menggunakan mobil bermesin diesel. “Lalu, akan dikuras untuk mesin diesel sumur
di sawah,” ucapnya. (ofi)







