| Rocky Gerung. Foto:instagram.com/rockygrung.ofc |
NEUMEDIA.ID,
JAKARTA – Para relawan Joko Widodo ramai-ramai
melaporkan Rocky Gerung atas dugaan penghinaan presiden. Namun, Bareskrim Polri
menolak laporan yang mereka sampaikan.
Rocky Gerung pun
merespon langkah para relawan Jokowi yang melaporkan dirinya ke polisi. Dia
mengatakan bahwa mereka harus menghormati pandangan yang disampaikannya
Seperti halnya dia
menghormati pandangan para relawan Jokowi. “Pandangan saya harus dihormati.
Seperti saya menghormati pandangan para pemuji Presiden Joko Widodo,” terangnya
kepada Pedeo Project, grup Erapolitik.com.
Sebelumnya, Sekretaris
Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) Relly Reagen mengatakan, pihaknya
telah melaporkan Rocky ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim.
Namun, SPKT menolak laporan dan mengalihkannya ke pengaduan masyarakat.
Bareskrim menolak
laporan itu, karena harus ada klarifikasi dari Presiden Jokowi langsung sebagai
pihak yang dirugikan. “Mereka merasa tidak mungkin memanggil Presiden,”
terangnya.
Relly menyatakan,
walaupun berupa pengaduan masyarakat, tapi masih ada kemungkinan bisa naik
menjadi laporan polisi, jika penyidik mendatangi Presiden Jokowi dan
mengklarifikasi pengaduan tersebut.
Selain Bara JP,
relawan yang lain juga ikut melaporkan. Di antaranya, Barikade 98, Foreder,
Sekber Jokowi Nusantara, ABJ, JPKP, SOLMET, Relawan Indonesia Bersatu, Barisan
Pembaharuan, AKAR, Indonesia Hari Ini (IHI), dan SEKNAS.
Mereka mengatakan, Rocky telah menghina presiden. “Pernyataan yang
disampaikan Rocky merupakan penghinaan kepada presiden,” papar Ketua Barikade
98 Benny Rhamdani.
Benny menyatakan,
tidak boleh ada seorang pun yang menghina Presiden Jokowi. Sebab, mayoritas
masyarakat Indonesia telah memilih Jokowi sebagai pemimpin negara. “Presiden
kita ini hasil dari proses demokrasi, yang dipilih oleh mayoritas rakyat
Indonesia,” tuturnya.
Selain dugaan
penghinaan, relawan juga melaporkan Rocky soal dugaan provokasi. Rocky dituduh
telah mengajak masyarakat untuk menggelar aksi layaknya 1998. Bahkan
memprovokasi rakyat untuk turun melakukan aksi pada 10 Agustus mendatang.
“Sebagaimana yang terjadi di 98,” pungkasnya. (kafi/ofi)
Artikel kolaborasi
Neumedia.id dan Erapolitik.com






