![]() |
|
| Aktivis lingkungan mengambil sampel air dari Sungai Ngrowo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur untuk diteliti kelayakannya, Minggu, 11 Juni 2023. Foto/Ecoton. |
NEUMEDIA.ID, TULUNGAGUNG – Kalangan aktivis lingkungan menyatakan
bahwa air di Sungai Ngrowo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur berkualitas
buruk. Salah satu indikatornya karena rendahnya kadar oksigen di dalam air lantaran
kurang dari 4 mg/L.
Batas minimal kadar oksigen dalam
air itu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Sementara, kadar DO (Dissolved Oxygen) di aliran Sungai Ngowo yang masuk Desa Plandaan hanya 2,4 mg/L. Kemudian, di Desa Tawangsari 2,2 mg/L, di Jembatan
Plengkung Mangunsari 2,2 mg/L, dan di dekat
outlet pembuangan limbah cair pabrik gula Mojopanggung 0.4 mg/L.
Azis, Deputi Eksternal dan
Kemitraan Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menduga
rendahnya kadar oksigen dalam air di Sungai Ngrowo merupakan dampak dari
operasional Pabrik Gula Mojopanggung.
“Kami mengidentifikasi kadar
oksigen terlarut dalam air sangat rendah dengan nilai 0,4 mg/L,” ujar dia dalam
keterangan tertulisnya, Senin, 12 Juni 2023.
Selain itu, kondisi air hangat
dengan suhu mencapai 38 derajat Celcius. Dampaknya, tidak ditemukan ikan maupun
biota lain yang dapat hidup di aliran Sungai Ngrowo. “Hal ini juga akan
berdampak pada kepunahan ikan di tempat tersebut,” ucap Azis.
Tidak hanya itu, uji mikroplastik
juga dilakukan di Sungai Ngrowo. Adapun hasilnya diketahui sebanyak 111
partikel/50 liter air yang didominasi oleh mikroplastik fiber sebanyak 56 persen.
Kemudian, filamen 23 persen, dan fragmen 22 persen.
Mikroplastik fiber berasal dari
serpihan tekstil dapat berasal dari
limbah hasil cucian baju. Sedangkan mikroplastik filamen berasal dari plastik
tipis seperti kresek dan bungkus
makanan. Untuk mikroplastik fragmen berasal dari plastik tebal seperti sachet.
Aktivis lingkungan juga melakukan
inventarisasi timbulan sampah di bantaran sungai. Dari kegiatan itu ditemukan
83 timbulan sampah liar. Yang kemudian dievakuasi sampah sebanyak 1 dump truk, 3 tossa dan 1 pikap.
Hasil kegiatan brand audit, tim
relawan susur sungai berhasil mengidentifikasi sejumlah 384 pcs sampah plastic.
Kemasan itu didominasi plastik tidak bermerek seperti tas kresek, sedotan, styrofoam
dengan presentase 49 persen.
Kemudian didapati tiga produsen
penyumbang sampah plastik terbesar yaitu Danone persen, Wings persen dan Tirta
Sukses Perkasa 4 persen.
Temuan itu berdasarkan hasil
identifikasi susur sungai yang dilakukan para aktivis lingkungan. Mereka
terdiri dari Aliansi Lereng Wilis Indonesia (ALWI), Yayasan Kajian Ekologi dan
Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Aliansi Komunitas Sungai Brantas.
Kegiatan yang juga menggandeng
petugas dari Dinas Lingkungan Hidup Tulungagung itu berlangsung Minggu kemarin,
11 Juni 2023. (*/uma/ofi)







