MADIUN, NEUMEDIA.ID – Sepanjang 2025, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun mencatat telah melaksanakan 115 kegiatan sosialisasi keselamatan perlintasan sebidang di sejumlah daerah yang dilintasi jalur kereta api. Program ini diklaim sebagai upaya menekan potensi kecelakaan yang masih kerap terjadi di perlintasan sebidang.
Berdasarkan data KAI Daop 7, sosialisasi dilakukan di wilayah Kota dan Kabupaten Madiun, Ngawi, Kediri, Jombang, Blitar, Tulungagung, Magetan, hingga Nganjuk. Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan jumlah kegiatan terbanyak, disusul Kota Kediri dan Kabupaten Ngawi.
Pelaksanaan sosialisasi berlangsung hampir sepanjang tahun, dengan intensitas tertinggi pada periode September hingga November 2025. Kegiatan tersebut menyasar pengguna jalan, masyarakat sekitar rel, serta komunitas yang dinilai memiliki aktivitas tinggi di sekitar perlintasan sebidang.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menyebut rendahnya kesadaran dan disiplin pengguna jalan masih menjadi salah satu faktor utama risiko kecelakaan di perlintasan.
“Kereta api memiliki prioritas utama di perlintasan sebidang. Karena itu, pengguna jalan wajib mematuhi rambu dan sinyal yang ada,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, KAI menggandeng sejumlah pihak, antara lain Dinas Perhubungan, Kepolisian, komunitas pecinta kereta api, serta mahasiswa Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun. Keterlibatan lintas sektor ini disebut untuk memperluas jangkauan sosialisasi di lapangan.
Saat ini, wilayah kerja Daop 7 Madiun memiliki 216 perlintasan sebidang, terdiri atas 212 perlintasan resmi dan 4 perlintasan tidak resmi. Dari jumlah tersebut, 31 perlintasan masih belum dijaga, sementara sisanya dijaga oleh Dishub, KAI, maupun secara swadaya oleh masyarakat.
Kondisi perlintasan yang belum dijaga dinilai masih menyimpan potensi risiko, terutama di jalur dengan lalu lintas kendaraan padat. KAI pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada saat melintasi rel kereta api.
“Berhenti sejenak, melihat kiri dan kanan, serta memastikan kondisi aman sebelum melintas adalah langkah paling sederhana untuk mencegah kecelakaan,” kata Tohari.
Meski sosialisasi telah dilakukan ratusan kali, efektivitasnya tetap bergantung pada perubahan perilaku pengguna jalan dan peningkatan pengamanan di perlintasan sebidang, terutama pada titik-titik yang hingga kini belum memiliki penjagaan. (*/ant/red)






