MADIUN, NEUMEDIA.ID — Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mawar terus menjadi rujukan bagi ratusan warga belajar yang ingin melanjutkan pendidikan di luar jalur formal. Lembaga pendidikan non-formal yang berdiri sejak 2011 ini kini menampung hampir 750 peserta, mulai Paket A setara SD, Paket B setara SMP, hingga Paket C setara SMA.
Kepala PKBM Mawar, Arga Gampil Ipung Wijaya, menjelaskan bahwa PKBM hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terhambat pendidikan formal. “PKBM adalah wadah pendidikan non-formal. Programnya setara sekolah umum, tetapi lebih fleksibel,” ujarnya.
Menurut Arga, pendidikan non-formal mengusung prinsip belajar sepanjang hayat, sehingga bisa diikuti berbagai kalangan. Meski begitu, PKBM Mawar memberi batasan tertentu agar tidak tumpang tindih dengan sekolah formal.
“Kami melayani mereka yang memiliki kendala pendidikan, seperti putus sekolah, faktor ekonomi, kebutuhan khusus, atau yang pernah berhadapan dengan hukum. Sejak pandemi, yang paling banyak justru dari keluarga broken home,” jelasnya.
Untuk warga belajar usia 24 tahun ke bawah, biaya pendidikan digratiskan. Sementara peserta di atas usia tersebut dikenakan biaya ringan yang tidak mengikat. “Yang penting ada kemauan untuk belajar kembali,” tambah Arga.
Saat ini peserta PKBM Mawar tak hanya berasal dari Kabupaten dan Kota Madiun, namun juga daerah sekitar seperti Ngawi dan Magetan.
Arga mengakui, tantangan terbesar adalah mengubah anggapan bahwa warga belajar di PKBM adalah mereka yang “tidak mau sekolah”. Padahal, banyak dari mereka justru membutuhkan pendekatan khusus untuk kembali termotivasi.
“Karena itu kami mengedepankan pendekatan sosial budaya. Ada home visit, pendampingan sosial, tatap muka 20–30 persen, tutorial, sampai 50 persen belajar mandiri,” katanya.
Selain pendidikan akademik, PKBM Mawar juga berkolaborasi dengan Dinas Sosial, LKP, dan sejumlah pihak untuk membekali keterampilan tambahan bagi warganya. Mulai pelatihan bahasa Korea, otomotif, menjahit, musik tradisional seperti jaranan, hingga electone untuk mereka yang berminat seni modern.
Salah satu warga belajar, Kartika Sari, turut membagikan pengalamannya. Ia mulai bergabung pada 2020 setelah sempat putus sekolah karena masalah keluarga.
“Saya ingin dapat ijazah SMA. Di PKBM jadwalnya fleksibel, guru-gurunya ramah, dan suasananya bikin betah,” ujar Kartika yang kini duduk di kelas 11.
Ia mengaku semangat belajarnya meningkat sejak masuk PKBM. “Lebih semangat dan lebih percaya diri,” katanya.
Kartika juga tengah mempersiapkan masa depan dengan mempelajari berbagai bahasa asing. “Saya belajar bahasa Korea dan Inggris di PKBM. Untuk Jerman, saya belajar di luar. Semoga bisa bekerja di Korea atau Jerman,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan apresiasinya kepada para pendidik. “Terima kasih untuk semua guru, terutama Pak Arga, yang sudah membimbing kami.” imbuhnya.
Dengan jumlah peserta yang terus bertambah dan program yang semakin lengkap, PKBM Mawar menjadi bukti bahwa pendidikan non-formal mampu menjadi jaring pengaman bagi masyarakat yang sulit mengakses sekolah formal.
“Intinya, kami memberi wadah sesuai bakat dan minat agar mereka siap bersaing,” tutup Arga. (*/ant/red)






