![]() |
| Ilustrasi tanam padi. Foto:Freepik.com |
NEUMEDIA.ID – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) memprediksi anomali cuaca dampak dari El Nino yang mengalami masa puncak
pada Agustus hingga September mendatang. Fenomena ini disebut akan mengurangi
ketersediaan air dan menurunkan produktivitas pangan.
Potensi
itu dapat memengaruhi ketahanan pangan secara nasional. Maka, pemerintah pusat
telah menyiapkan sejumlah rencana untuk menghadapi segala kemungkinan ketika
masa puncak El Nino berlangsung.
Rapat
terbatas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun digelar bersama sejumlah
jajarannya di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 18 Juli 2023. Salah satu poin-nya,
Badan Pangan Nasional (Bapanas) diminta menyiapkan dan menghitung secara cermat
stok pangan nasional.
Kepala
Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan bahwa penyiapan stok pangan nasional
dilakukan dengan penguatan posisi cadangan pangan pemerintah yang mencapai 735
ton dari produksi dalam negeri. Caranya, dengan menaikkan stok bulog menjadi
1,2 juta ton.
Ancaman
krisis pangan itu karena perbedaan kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia.
Di satu tempat dapat saja terjadi kekeringan, namun di daerah lain justru
terjadi banjir atau bencana hidrometeoroloigi.
Maka,
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menghimbau agar masyarakat terus menjaga
lingkungan, mengatur tata kelola air dengan bijak dan beradaptasi dengan pola
tanah yang ada. “Selain itu, memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim
yang terus berubah dari waktu ke waktu sangatlah penting,” ujar dia.
Sementara
itu, El Nino merupakan fenomena pemanasan Mula Laut (SML) di atas kondisi
normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini
meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi
curah hujan di wilayah Indonesia.
Indonesia
terkena dampak El Nino karena adanya Sirkulasi
Walker yang berputar sejajar dengan garis khatulistiwa. Pada kondisi netral, Sirkulasi
Walker di Indonesia berbentuk konvergen (naik), sehingga meningkatkan potensi
pertumbuhan awan konvektif pembentuk hujan.
Sedangkan saat terjadi El Nino, Sirkulasi Walker akan
bergeser karena melemahnya angin pasat timuran. Maka, di wilayah Indonesia
Sirkulasi Walker akan berbentuk subsiden (turun) yang menyebabkan potensi pertumbuhan
awan konvektif berkurang. dengan demikian. curah hujan cenderung berkurang. (**/ofi)
Diolah dari berbagai sumber







