MADIUN, NEUMEDIA.ID – Pagelaran wayang kulit yang digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDI Perjuangan di Sasana Kridha Mulya, Desa Babadan Lor, Kecamatan Balerejo, menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, pesan sosial, dan kepedulian lingkungan.
Bupati Madiun Hari Wuryanto menilai kegiatan tersebut selaras dengan arah pembangunan daerah yang menitikberatkan kebersamaan dan keberlanjutan.

Hadir langsung menyaksikan pertunjukan, Hari Wuryanto menyebut wayang kulit bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan medium efektif untuk menanamkan nilai gotong royong, guyub rukun, sekaligus kesadaran menjaga alam.
“Pagelaran budaya seperti ini sangat membantu pemerintah daerah. Nilai-nilai yang disampaikan sejalan dengan visi kami mewujudkan Kabupaten Madiun yang bersahaja, bersih, sehat, dan sejahtera,” kata Hari Wuryanto.
Pagelaran wayang dengan lakon wayang “Semar Bangun Kayangan” yang dibawakan dalang Joko Klenteng asal Ngawi tersebut merupakan hasil kolaborasi Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Ristu Nugroho dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Banyu Biru Djarot.
Pagelaran budaya tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi, para anggota fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Madiun, kepala desa sekitar, serta ribuan warga dari berbagai wilayah sekitar.

Dalam kesempatan itu, Bupati Madiun juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-53 kepada PDI Perjuangan. Ia berharap partai berlambang banteng moncong putih tetap konsisten berada di tengah rakyat dan memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.
Hari Wuryanto turut mendoakan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang genap berusia 79 tahun pada 23 Januari lalu agar senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara.
Tak hanya menyoroti aspek kebudayaan, Hari Wuryanto juga menekankan pentingnya memperkuat solidaritas sosial sebagai fondasi pembangunan daerah. Menurutnya, semangat gotong royong dan kebersamaan adalah modal utama dalam mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, ia kembali mengingatkan urgensi kepedulian terhadap lingkungan, menyusul maraknya bencana alam di berbagai daerah. Salah satu langkah konkret yang terus didorong Pemkab Madiun adalah gerakan satu rumah satu pohon.
“Kalau yang ditanam pohon produktif, manfaatnya bukan hanya dirasakan hari ini, tapi juga oleh anak cucu kita. Ini investasi jangka panjang sekaligus amal yang pahalanya terus mengalir,” tegasnya.
Hari Wuryanto menilai sinergi antara pemerintah daerah, unsur politik, dan masyarakat dalam kegiatan kebudayaan menjadi bukti bahwa pembangunan tidak semata berbicara soal infrastruktur, tetapi juga tentang merawat nilai, lingkungan, dan kebersamaan sosial. (ant/red)






