MADIUN, NEUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun menggelar upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Kamis (1/10/2026).
Upacara tersebut tidak sekadar menjadi agenda peringatan nasional. Pemkab Madiun juga memanfaatkannya sebagai momentum untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda sekaligus menegaskan pentingnya menjaga Pancasila.
Bupati Madiun Hari Wuryanto mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila harus menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah secara utuh, termasuk sejarah kelam yang pernah terjadi di Madiun pada 1948.
“Kita semua harus menjaga Pancasila. Kami juga ingin meluruskan sejarah yang ada di Kabupaten Madiun. Selama ini masih ada anggapan bahwa Madiun identik dengan pemberontakan PKI,” kata Hari Wuryanto.
Ia menegaskan, berdasarkan pandangan Pemkab Madiun, masyarakat Madiun pada masa itu merupakan korban konflik dan kekerasan, bukan pihak yang melakukan pemberontakan.
“Sekali lagi, kami ingin meluruskan bahwa masyarakat Kabupaten Madiun adalah korban, bukan pelaku,” tegas Hariwur, sapaan akrab Bupati Madiun.
Hariwur mengatakan, pemahaman tersebut penting disampaikan kepada generasi muda agar mereka tidak mewarisi stigma negatif yang selama ini melekat pada daerah Madiun.
Terlebih, menurut dia, sejumlah tokoh dan kiai di Madiun menjadi korban pembunuhan karena menentang kehadiran serta paham komunisme pada masa tersebut.
Karena itu, edukasi sejarah dan wawasan kebangsaan terus diberikan kepada pelajar. Tidak hanya sejarah secara nasional, Pemkab Madiun juga berupaya mengenalkan sejarah lokal atau local wisdom kepada generasi penerus.
“Kami menghadirkan generasi muda agar mereka benar-benar memahami sejarah yang terjadi pada 1948. Kami ingin generasi muda ke depan selalu siap menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa,” ujarnya.
Hariwur mengatakan, upaya meluruskan stigma sejarah tersebut mulai menunjukkan perubahan. Ia menyebut generasi muda kini diharapkan lebih percaya diri ketika membawa nama Kabupaten Madiun dalam berbagai kesempatan.
“Sekali lagi, saya mohon dibantu untuk menginformasikan kepada seluruh masyarakat bahwa Kabupaten Madiun adalah korban, bukan pelaku,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Agus Sucipto menambahkan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat dan generasi muda agar tidak melupakan sejarah.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi media pengenalan sejarah kepada pelajar, masyarakat, maupun pemangku kebijakan.
“Rutinitas ini menjadi sebuah review sekaligus pengenalan sejarah kepada masyarakat dan pelajar. Pemerintah juga harus selalu menghormati jasa-jasa para pahlawan,” kata Agus.
Ia berharap kegiatan semacam itu dapat memperkuat kembali pendidikan kebangsaan yang dinilainya mulai luntur.
Agus juga menyoroti derasnya arus informasi yang diterima generasi muda. Menurutnya, pelajar tidak cukup hanya mencari informasi sejarah dari berbagai sumber yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, kegiatan peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi media pembelajaran langsung agar pelajar memperoleh pemahaman sejarah dari kegiatan edukatif yang disiapkan pemerintah.
“Jangan sampai generasi muda terombang-ambing oleh informasi atau berita yang sumbernya kurang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Selain upacara, rangkaian kegiatan juga diisi pengenalan sejarah G30S, peristiwa pascakejadian tersebut, serta keberadaan pencak silat sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat Madiun.
Agus menyebut materi mengenai sejarah, kebangsaan, dan bela negara juga dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah seiring perkembangan kurikulum.
Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Madiun turut mengangkat identitas Madiun sebagai Kampung Pesilat.
Agus mengatakan, pencak silat tidak semestinya hanya dipandang sebagai seni bela diri, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter dan bela negara secara swakarsa.
“Harapannya, pencak silat ke depan menjadi bagian dari budaya dan bukan justru menjadi sumber keributan,” katanya.
Menurut Agus, sejarah perjuangan di Madiun juga tidak terlepas dari kontribusi kelompok masyarakat, termasuk para pesilat. Hal tersebut dinilai penting untuk dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami nilai sejarah sekaligus menjaga keberadaan pencak silat sebagai warisan budaya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Kresek tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, ASN, masyarakat, PWRI, veteran, hingga pelajar.
Sebanyak 14 perguruan pencak silat di Kabupaten Madiun turut diundang. Selain itu, pelajar dari jenjang SMP, SMA, dan SMK juga dilibatkan dalam kegiatan. (ant/red/adv)






